Wednesday, July 18, 2018

Direktur PT. Bestindo Persada Mengaku Tidak Ada Izin Edar Pembuatan Sabun Mandi dan Shampo

Ditulis oleh: Redaksi kepriaktual.com     Wednesday, July 18, 2018    

Direktur PT. Bestindo Persada dan Karyawanya Jalani Sidang di PN Batam
HUKUM KEPRIAKTUAL.COM: Direktur PT. Bestindo Persada, Mulyadi alias Mul beserta 7 orang karyawanya jalani sidang di Pengadilan Negeri (PN) Batam dengan agenda pemeriksaan saksi dari BPOM dan pemeriksaan kedelapan terdakwa kasus tindak pidana Kesehatan, Rabu (17/7-2018).

Delapan terdakwa tahanan luar itu dalam sidang pemeriksaan saksi BPOM membenarkan bahwa PT. Bestindo Persada yang memproduksi produk ilegal sabun mandi dan shampo tidak memiliki izin edar. "Tidak ada izin edar yang dimiliki PT. Bestindo Persada," ujar saksi dari BPOM.

Dari keterangan terdakwa Direktur PT. Bestindo Persada, sabun dan shampo diproduksi di dua tempat, diproduksi di gudang Batu Ampar dan Batam Centre, pembuatanya pun secara illegal yang menggunakan zat kimia.

"Usai diproduksi, sabun mandi dan shampo dipasarkan ke hotel-hotel, seprti di hotel Vista, Lovina Iin , hotel di Batu Aji, hotel Nagoya dan hotel lainnya. Itu dipasarkan oleh sales Harian alias Ameng," ujar Mulyadi.

Mulyadi juga menyampaikan, operasi illegal pembuatan sabun mandi dan shampo di dua tempat sudah beroperasi selama 1 tahun. Dan izin edarnya masih tahap pengurusan, tapi belum kunjung selesai. "Izin edarnya udah lama kami urus yang mulia. Tapi belum dapat izin edar dari BPOM," kata Mulyadi.

Adil alias Acok sebagai peracik sabun dan sampo mengatakan, bahan racikan yang digunakan, bahan kimia. Usai diracik, Rahmad memasukkam hasil produksi kedalam jeregen 5 liter. "Karyawan digudang Rahmad, Heriyanto sebagai administrasi, Rudi Hendrawan pencuci jerigen, dan Jhon Hendra sebagai penjaga gudang,"ujarnya Adil.

Produksi pembuatan sabun dan shampo illegal ini ditangkap Polda Kepri Januari 2018. Namun, kata Mulyadi, perusahaan PT. Bestindo Persada sudah bergerak selama 10 tahun lalu di bidang distributor produk kosmetik asal Jakarta dan terakhir,  ia memproduksi sendiri sabun dan shampo serta mendatangkan bahan kimia kosmetik dari Jakarta dan sebagian bahan si beli di apotik Batam.

“Bahan baku kami beli diapotik dan diracik di gudang Batu Ampar oleh pekerjanya,”ujar Mulyadi.

Naum ketika ditanya Hakim Ketua Chandra didampingi Hakim anggota. Sauadara terdakwa sebagai Direktur perusahaan, dan terdakwa tadi menyampaikan sudah beroperasi 1 tahun, tapi izin edar belum dikeluarkan oleh BPOM. Kenapa diproduksi kalau belum keluar izin edarnya?, taukan itu salah?, dan selama memproduksi sabun mandi dan shampo, pernah tidak didatangi oleh BPOM?.

"Pernah didatangi BPOM yang mulia, dan kami pun sudah mengajukan izin edar, tapi ditolak," kata Mulyadi.

Sementara itu, Harian alias Ameng (Sales) mengaku menjual produk sabun dan shampo tersebut ke hotel Vista, Lovina In dan hotel berbintang lainnya, namun produk yang diproduksi tersebut hanya diperuntukan di kolam renang saja.

“Sabun dan shampu tersebut hanya digunakan dikolam renang tetapi dalam kamar hotel tidak,” ujarnya.

Seperti diketahui,kedelapan terdakwa Tjhon Nyang Alias Angin, Adil alias Acok, Mulyadi, Heriyanto, Rahmad Alyakin, Rudi hendrawan, Harian alias Ameng, dan Jhon Hendra ditangkap kepolsian Polda kepri bulan january 2018 sekira pukul 15.00 WIb digudang komplek I Blok B No. 3 A Batam.

Dimana kepolisian mendapat informasi masyarakat bahwa ada yang memproduksi atau mengedarkan sedia farmasi tanpa ijin edar. Kemudian anggota polisi mendatangi gudang PT. Bestindo Persada di di komplek I Blok B No. 3 A Kecamatan Batam Kota.

Bahwa setelah dilakukan pemeriksaan ditemukan kosmetika yang tidak memiliki izin edar atau belum mendapatkan persetujuan pendaftaran yang di berikan oleh Balai Pengawas Obat dan Makanan yaitu berupa sabun dan shampo.

Cara awal memproduksi yang dilakukan oleh terdakwa setelah dilakukan Pemeriksaan dan mengakui perbuatannya yaitu dengan cara terdakwa menelpon terdakwa yang berada di Gudang 1 Blok B N0.3a kecamatan Batam Kota dengan memerintahkan terdakwa untuk memproduksi sabun Mandi maupun Sampho.

Pertama tama terdakwa mencampurkan/memasukan air ke dalam mesin adukan seberat 174 Kg, memasukan Bahan kimia Amino 6 Kg, N70 berat 16 Kg, kurang lebih selama 1 jam 20 Menit agar Amino dan N70 tercampur sempurna.

Selanjutnya di masukan lagi garam berat 4 Kg di aduk kurang lebih 5 Menit kemudian dimasukan lagi Bahan Parfum seberat 600 ML diaduk sampai rata, memasukan DM (mengawetkan) sebanyak 400 ML. Selanjutnya di masukan bahan CETI (pelembut Kulit) sebanyak 20 Ml, selanjutnya memasukan CB 2 KG, di aduk lagi selama 15 menit, dari adukan tersebut menghasilkan Sampo dan sabun mandi, yang selanjutnya oleh terdakwa Heryanto dimasukan ke dalam Jerigen.

Dan terdakwa Rahmad Alyakin menempelkan setiker Perisahaan PT.Bestindo Persada serta
membuatkan Surat Jalan atau Iinvoice, selanjutnya setelah barang siap terdakwa menelpon Rudi Hendarwan agar barang siap di ambil untuk di pasarkan sesuai perintah Mulyadi , selaku pemilik maupun terdakwa Harian alias Ameng selaku tenaga salesman.


Alfred

0 comments :